Makassar-Ketua Harian DPD I Partai Golongan Karya (Golkar) Sulawesi Selatan, Dr. Supriansa, S.H., M.H., menyampaikan pesan reflektif mengenai pentingnya menjaga etika dan kedewasaan dalam panggung politik.
Ia menegaskan bahwa perjalanan karier politik tidak sepatutnya diwarnai oleh upaya saling menjatuhkan demi meraih suatu posisi atau jabatan.
“Politik itu lentur, tak perlu menjatuhkan untuk naik. Karena semua ada waktunya,” ujar Supriansa di Makassar
Pernyataan tersebut mengandung filosofi bahwa setiap kader memiliki proses, momentum, dan takdirnya masing-masing. Oleh sebab itu, pencapaian seorang politisi tidak semestinya dibangun di atas kejatuhan pihak lain.
Pesan moral ini mengemuka seiring dipercayakannya amanah baru kepada Supriansa sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD II Partai Golkar Kota Makassar.
Penunjukan tersebut ditetapkan langsung oleh Ketua DPD I Golkar Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin, pada Jum'at (9/10/2026) lalu.
Langkah strategis ini dilakukan untuk mengisi kekosongan kepemimpinan pasca-pengunduran diri Munafri Arifuddin yang beralih ke Partai Demokrat.
Sebagai pemegang mandat transisi, Supriansa mengemban tugas utama mempersiapkan musda dengan menghadirkan pemimpin DPD Makassar nantinya yang bisa diterima oleh semua pihak.
Menyiapkan Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Kota Makassar untuk menentukan kepemimpinan definitif.
Dalam pandangan etika politik, Supriansa mengingatkan bahwa kompetisi internal maupun eksternal hendaknya dijalankan dengan kedewasaan, saling menghormati, dan tetap berorientasi pada tujuan bersama.
Perbedaan pilihan politik maupun dinamika pergeseran posisi adalah hal wajar dalam kehidupan demokrasi.
Ia menekankan bahwa kualitas, rekam jejak, dan integritas seorang kader jauh lebih utama dibanding sekadar manuver politik.
“Tak penting mengumbar semut seakan gajah, karena pada akhirnya lalat pun bisa membedakan mana sampah, mana bunga,” tegasnya.
Kiasan bernas tersebut menjadi sentilan agar persoalan kecil tidak dibesar-besarkan hanya demi memburu perhatian publik.
Supriansa meyakini bahwa masyarakat saat ini sudah semakin cerdas dalam membedakan narasi yang membawa manfaat nyata dengan tindakan yang sekadar menimbulkan kegaduhan.
“Tidak perlu merendahkan orang lain untuk meninggikan diri sendiri. Biarlah kerja nyata, integritas, dan waktu yang menunjukkan nilai dari setiap langkah politik kita,” pungkas Supriansa.(*)
