Iklan

Iklan

PEMKAB

SANTIAJI

DENEWS

WAHDA

NELLY

KASATRESKRIM

DPRD

DPRD SYAM

HJS 765 DPD

HJS 765 AMF

HJS 765 KASATRES

Agus Iskandar : Banyak Gagal Paham Tentang Sejarah di Soppeng

Selasa, 24 Maret 2026, Maret 24, 2026 WIB Last Updated 2026-03-24T11:09:37Z
DPRD


                         Agus Iskandar 

Soppeng-Perayaan Hari Jadi Soppeng setiap 23 Maret kembali memantik refleksi publik tentang asal-usul penetapan tanggal tersebut. Selasa, 24/3.

Forum Komunikasi Jurnalis lokal (FKJ) mengkritik, hari jadi Soppeng seharusnya tidak hanya dipahami sebagai momentum seremonial kabupaten, tetapi sebagai representasi perjalanan panjang sebuah entitas peradaban budaya.

Salah satu anggota tim studi banding penelusuran hari jadi Soppeng, Agusnawan Iskandar sekaligus anggota Forum Komunikasi Jurnalis (FKJ) kabupaten soppeng, mengungkapkan bahwa proses penentuan tanggal tersebut sebelumnya melalui kajian serius, termasuk studi banding ke sejumlah daerah seperti Gowa, Sinjai, Luwu, dan Wajo.

Umumnya, daerah-daerah tersebut menetapkan hari jadi berdasarkan peristiwa historis yang konkret dan monumental.

Namun, hasil studi tersebut justru tidak dijadikan rujukan utama dalam penetapan Hari Jadi Soppeng. Tanggal 23 Maret 1261 dinilai lebih mengedepankan pendekatan filosofis yang dikaitkan dengan falsafah Bugis “Dua Temmallaiseng Tellu Temmassarang”.

Pendekatan ini memunculkan perdebatan karena dianggap tidak selaras secara kebahasaan maupun historis.

Menurut Agus, terdapat momentum sejarah yang dinilai lebih kuat, yakni 13 Maret 1957.Tanggal tersebut menandai lepasnya Soppeng dari Daerah Swatantra Bone serta berakhirnya status swapraja, sekaligus awal terbentuknya pemerintahan daerah otonom.

Peristiwa ini juga ditandai dengan pengangkatan H.A.Wana sebagai Kepala Daerah Tingkat II Soppeng pertama dan raja terakhir Kerajaan Soppeng.

Dengan dasar tersebut, sebagian kalangan menilai 13 Maret memiliki legitimasi historis yang lebih kuat sebagai hari jadi karena berbasis pada peristiwa nyata yang menjadi titik balik perjalanan pemerintahan Soppeng.

Meski demikian, wacana peninjauan ulang ini tidak dimaksudkan untuk menggugat keputusan yang telah ada, melainkan sebagai upaya memperkaya pemahaman sejarah secara lebih utuh dan ilmiah.

"Sebab, hari jadi bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi cerminan identitas dan memori kolektif masyarakat Soppeng," jelas Agus Iskandar.
Komentar

Tampilkan

  • Agus Iskandar : Banyak Gagal Paham Tentang Sejarah di Soppeng
  • 0

Terkini

Topik Populer

Iklan