Fitriani bersama sang Ayah.
Soppeng-Ada jenis luka yang tidak berdarah, namun rasanya jauh lebih perih dari sayatan sembilu. Luka itu tersimpan rapi di balik kerah seragam SMP milik Fitriani.
Setiap hari, gadis kecil yang kini duduk di kelas II SMP Negeri Labokong, Kabupaten Soppeng, harus membawa beban batin yang sanggup meremukkan pundak orang dewasa sekalipun.
Nama Fitriani sempat memuncaki rasa iba publik setelah sebuah ironi pendidikan yang menyakitkan mencuat ke media massa.Ijazah kelulusan Sekolah Dasarnya di SDN 37 Kabaro sempat disandera selama hampir dua tahun oleh pihak sekolah.
Alasannya begitu dingin dan tidak punya hati dimana tunggakan uang komite yang belum dilunasi. Sekolah, yang seharusnya menjadi pelukan hangat bagi anak-anak miskin, sempat berubah menjadi jeruji administrasi yang menahan langkahnya.
Namun, ketika tim media melangkah masuk ke rumah sederhananya di Kecamatan Donri-Donri pada Sabtu (30/5), selembar kertas yang tertahan itu mendadak terasa kecil.
Di sana, di bawah atap yang mulai lapuk, terhampar sebuah kenyataan yang jauh lebih menyayat hati. Urusan ijazah itu hanyalah satu tetes air dari samudera penderitaan yang sedang diarungi anak perempuan ini.
Fitriani adalah definisi nyata dari seorang anak yang "yatim piatu" sebelum waktunya. Ayah dan ibunya masih hidup, masih menghirup udara di bawah langit yang sama, namun mereka telah memilih untuk menjadi orang asing bagi darah dagingnya sendiri.
Pasca-perceraian, sang ayah dan ibu memutuskan untuk melangkah pergi, menata hidup baru, dan menikah lagi dengan pasangan masing-masing.
Di rumah tangga mereka yang baru, di bawah atap yang hangat penuh tawa baru, Fitriani dan kakaknya rupanya tidak masuk dalam rencana masa depan. Mereka "ditinggalkan" begitu saja di rumah lama yang sunyi.
Di rumah tanpa detak jantung itu, Fitriani hanya tinggal berdua dengan kakak kandungnya. Dua anak yang belum matang oleh usia, dipaksa oleh ego orang dewasa untuk mengurus diri mereka sendiri.
Tidak ada ibu yang mengusap kepala Fitriani saat ia demam. Tidak ada ayah yang berdiri melindunginya saat ia ketakutan di malam hari.
Mereka hanya memiliki satu sama lain, saling menggenggam tangan di tengah kegelapan, dan menahan tangis agar tidak terdengar ke luar dinding rumah.
Untuk sekadar bertahan hidup dan mengisi perut yang lapar, kedua anak ini harus menyeret kaki mereka menuju rumah neneknya yang berada tak jauh dari sana.
“Memang hanya berdua kakaknya yang tinggal di sini. Kalau mau makan siang atau makan malam, mereka selalu datang ke rumah saya,” bisik sang nenek, suaranya mendadak parau dan tercekat di tenggorokan.
Ada bulir air mata yang tertahan di sudut mata wanita tua yang keriput itu.Nada suaranya menyiratkan keprihatinan yang teramat dalam, sebuah ratapan pilu seorang nenek yang dipaksa menyaksikan cucu-cucunya harus berjalan setiap hari demi sepiring nasi, sementara orang tua mereka berbahagia di tempat lain.
Menelan pahit tanpa mengeluh.Membayangkan posisi Fitriani adalah membayangkan sebuah kerapuhan yang absolut.
Membayangkan posisi Fitriani adalah membayangkan sebuah kerapuhan yang absolut.
Di usia di mana anak-anak lain sedang bermanja, menuntut gawai baru, atau mengeluh tentang menu makanan kepada ibunya, Fitriani harus bangun setiap pagi dan menghadapi kenyataan pahit bahwa ia adalah anak yang tidak diinginkan.
Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa dunia sempat mempersulit langkahnya dengan menahan ijazah SD miliknya hanya karena ia miskin.
Sempurna sudah alasan bagi seorang anak untuk membenci dunia, mengunci diri di kamar, dan berhenti percaya pada hari esok.
Namun, di sinilah hati kita seperti diremas oleh rasa haru yang hebat. Fitriani menolak untuk menyerah pada rasa sakit. Ia tidak pernah mengeluh kepada neneknya, tidak pula mengutuk ayah atau ibunya yang telah pergi.
Dengan keikhlasan yang teramat suci, setiap pagi ia tetap menyetrika sendiri seragam SMP-nya, merapikan buku-buku kusamnya, dan berjalan kaki menuju sekolah dengan semangat yang terus menyala.
Bagi Fitriani, ruang kelas adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa aman. Di depan papan tulis, ia bisa melupakan sejenak bahwa di rumahnya, ia hanyalah seorang anak yang ditinggalkan.
Kini, setelah gelombang empati masyarakat menggedor pintu nurani para pengambil kebijakan, kabar baik itu akhirnya datang. Pihak sekolah telah melunak dan menyerahkan ijazah SD milik Fitriani yang sempat tertahan dua tahun.
Namun, saat lembaran kertas berharga itu kini berada di dekapannya, rumah Fitriani tetaplah sunyi. Kertas itu telah kembali, tetapi waktu dua tahun yang hilang dalam kecemasan tidak akan pernah bisa ditukar. Begitu pula dengan kehadiran orang tuanya yang telah lesap terbawa angin egoisme.
Kisah Fitriani dari Kabupaten Soppeng ini adalah tamparan yang teramat keras bagi nurani kita semua.Ia memberi tahu dunia dengan cara yang paling sunyi dan menyakitkan.
Bahwa di luar sana, ada anak-anak yang batinnya patah, namun kakinya menolak untuk berhenti melangkah.Fitriani kini terus berjalan menatap masa depannya yang panjang.
Ia telah mengajarkan pelajaran paling mahal tentang hidup bahwa meski sepasang sayap utamanya telah dipatahkan oleh orang tuanya sendiri, ia akan tetap terbang tinggi dengan sayap-sayap kecil yang ia tenun sendiri dari benang ketabahan dan keikhlasan.(*)
