H.Ismail H.Cedang , pengdukung Jerman, dan Sahar, pendukung Brasil.
Soppeng-Dinginnya pada Rabu malam (10/6), di Kabupaten Soppeng seolah mencair di Warkop Camidu. Bendera-bendera negara peserta yang menghiasi sudut-sudut ruangan bukan sekadar pemanis, melainkan penanda bahwa denyut nadi pesta sepak bola dunia telah hadir di tengah masyarakat.
Di bawah temaram lampu warkop, perdebatan sengit namun hangat telah menjadi pemandangan rutin. Sahar, salah satu pengunjung setia, membuka diskusi dengan keyakinan penuh akan kebangkitan Brasil. Baginya, penantian panjang Selecao untuk kembali mengangkat trofi akan berakhir tahun ini.
"Brasil memiliki perpaduan talenta muda dan pemain berpengalaman yang luar biasa. Dengan kualitas individu serta kedalaman skuad yang dimiliki, mereka adalah kandidat terkuat untuk menjadi juara," ujar Sahar penuh optimisme.
Namun, argumen tersebut tak dibiarkan begitu saja.H.Ismail, pengunjung lain yang juga tokoh sentral di warkop tersebut, segera merespons dengan tandingan yang tak kalah kuat.Sebagai pendukung setia Jerman, ia memegang teguh keyakinan pada filosofi permainan Der Panzer.
"Brasil memang atraktif, tapi Jerman punya disiplin dan kolektivitas tim yang sulit ditandingi. Mental juara Jerman sudah teruji di berbagai turnamen besar. Saya yakin mereka yang akan membawa pulang trofi kali ini," tutur H. Ismail sembari tersenyum.
Adu argumen antara pendukung Brasil dan Jerman tersebut menjadi bumbu penyedap yang menghidupkan suasana malam di Warkop Camidu.
Diskusi kian inklusif ketika Herwan, pengunjung lainnya, turut urun rembuk. Ia menilai bahwa Argentina, sebagai juara bertahan, masih menjadi primadona pada musim ini.
"Namun, Prancis dan Spanyol tetap harus diwaspadai. Mereka adalah ancaman serius bagi tim-tim unggulan lainnya," singkat Herwan.
Bagi Herwan, agenda nonton bareng di Warkop Camidu bukan sekadar soal menyaksikan siaran langsung.Tapi Ini adalah ruang perjumpaan tempat berbagi prediksi, meluapkan euforia, dan merayakan persaudaraan melalui bahasa sepak bola yang universal.
"Dukungan tim berbeda, tapi saat bola sudah bergulir, semuanya melebur. Inilah esensi dari sebuah turnamen, bukan sekadar siapa yang menang atau kalah, melainkan bagaimana kita bisa duduk bersama dan menikmati momen ini," ungkap Herwan.
