Iklan

Iklan

PEMKAB

SANTIAJI

Stafsus Menag di Soppeng: Guru Harus Berpikir Kritis Berbasis Data Lewat Karya Ilmiah ‎

Senin, 18 Mei 2026, Mei 18, 2026 WIB Last Updated 2026-05-18T08:06:14Z


Soppeng-Lembaga Pendidikan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (LP2KS) bekerjasama dengan Kementerian Agama RI menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) peningkatan kompetensi tenaga pendidik di ruang pola Kantor Bupati Soppeng, Selasa (18/5).
‎Kegiatan yang mengusung tema "Peningkatan Profesionalisme Guru Melalui Karya Tulis Ilmiah" ini dihadiri wakil Bupati Soppeng Selle KS Dalle dan dibuka langsung oleh Staf Khusus Menteri Agama RI, Dr.Fachruddin Saenong.
‎​Bimtek ini dirancang khusus untuk memberikan pembekalan teoretis dan praktis yang kuat terkait metodologi penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) bagi para guru di bawah naungan Kementerian Agama, demi mendongkrak kualitas literasi dan karier fungsional mereka.
‎​Dalam sambutannya, Staf Khusus Menag, Dr. Fachruddin Saenong, menegaskan bahwa kemampuan menulis karya ilmiah bukan lagi sekadar pemenuhan syarat administratif untuk kenaikan pangkat, melainkan cerminan dari profesionalisme seorang guru.
‎​"Guru adalah pilar utama transformasi pendidikan di Kementerian Agama. Melalui penulisan KTI, guru diajak untuk berpikir kritis, berbasis data, dan mampu menuangkan inovasi pembelajaran di kelas ke dalam bentuk karya akademik yang teruji. Ini adalah wujud nyata dari profesionalisme yang berkelanjutan," ujar Dr. Fachruddin.
‎​Untuk memberikan fondasi yang kokoh kepada para peserta, panitia menghadirkan akademisi dan pakar sosiologi pendidikan, Prof. Dr. Sukardi Weda, sebagai pemateri utama.
‎​Dalam sesi materi yang berlangsung interaktif, Prof. Sukardi Weda membedah secara mendalam teknik dan metode penulisan karya tulis ilmiah yang kuat, sistematis, dan tembus jurnal bereputasi.
‎Beberapa poin krusial yang dipaparkan antara lain, pembelajaran di kelas yang aktual untuk diangkat menjadi topik penelitian, pemilihan metode penelitian baik kualitatif, kuantitatif,penelitian tindakan kelas yang tepat dan kokoh secara akademis, teknik menyusun struktur KTI mulai dari abstrak, pendahuluan, hingga pembahasan dan kesimpulan sesuai standar ilmiah.
‎​"Karya ilmiah yang kuat lahir dari metodologi yang disiplin. Jika guru terbiasa menulis dengan metode yang benar, maka kualitas proses belajar mengajar di madrasah atau sekolah otomatis akan ikut meningkat," jelas Sukardi Weda di hadapan para peserta.
‎Bimbingan teknis ini diharapkan melahirkan guru-guru yang tidak hanya cakap mengajar di depan kelas, tetapi juga produktif menghasilkan karya ilmiah yang berdampak luas bagi dunia pendidikan.
‎​Acara diakhiri dengan sesi klinik draf KTI, di mana para peserta mendapatkan bimbingan langsung mengenai rancangan tulisan ilmiah yang sedang mereka susun
Komentar

Tampilkan

  • Stafsus Menag di Soppeng: Guru Harus Berpikir Kritis Berbasis Data Lewat Karya Ilmiah ‎
  • 0

Terkini

Topik Populer

Iklan