Soppeng-Desa Leworeng, yang terletak di Kecamatan Donri Donri, Kabupaten Soppeng, sekilas tampak seperti potret pedesaan agraris pada umumnya.
Mayoritas warganya menggantungkan hidup dari hamparan sawah dan sektor pertanian. Namun di balik tenangnya kehidupan agraris tersebut, desa ini menyimpan reputasi unik yang disegani di seantero Soppeng.Leworeng adalah gudangnya para pelaut tangguh.
Kunci dari transformasi unik ini terletak pada sebuah sungai yang membelah desa. Bagi orang luar, aliran air ini mungkin terlihat biasa sekadar sumber irigasi sawah atau pemenuh kebutuhan domestik harian.
Namun bagi masyarakat Leworeng, terutama mereka yang kini berlayar di berbagai belahan dunia, sungai ini adalah ruang sakral. Ia adalah "sekolah alam" pertama tempat mental, keberanian, dan ketangkasan mereka ditempa sejak dini.
Sejak usia kanak-kanak, anak-anak Leworeng sudah menjalin akrab dengan riak air sungai. Tanpa instruktur formal, baju renang khusus, atau fasilitas kolam renang modern, mereka belajar secara otodidak melalui permainan, canda tawa, dan rutinitas mandi sore.
Di sinilah mereka membaca alam secara natural. Sungai dengan segala dinamika arus yang bergeser, kedalaman yang tak menentu, dan dasar sungai yang beragam menjadi penguji ketangkasan yang nyata.
Tubuh mereka dipaksa beradaptasi, memahami bagaimana arus bergerak, dan bagaimana menjaga diri agar tetap terapung serta melaju ke depan. Aliran air ini menumbuhkan kewaspadaan sekaligus insting yang tajam.
Bagi seorang pelaut, kemahiran berenang bukan sekadar pelengkap di atas kertas, melainkan perisai keselamatan yang mutlak.
Dalam konteks inilah Sungai Leworeng mengambil peran krusial sebagai kawah candradimuka.
Sebelum melangkah ke samudra luas, fisik dan daya tahan tubuh mereka digembleng di sini.
Rutinitas berenang di sungai lambat laun membentuk massa otot yang kuat dan naluri air yang tajam.
Kedalaman sungai yang akrab mereka selami menjadi modal berharga, memberikan rasa percaya diri penuh saat mereka harus berdiri di atas geladak kapal, menantang lautan yang jauh lebih dalam, luas, dan tak tertebak karakternya.
Kisah ketangguhan ini bukan isapan jempol belaka. Para pelaut senior sering kali bernostalgia tentang bagaimana langkah besar mereka bermula dari riak kecil Sungai Leworeng.
Sebuah adagium yang kerap digemakan di kalangan mereka berbunyi, jangan bermimpi berhadapan dengan ombak laut, bila berenang saja tidak bisa."
Lebih dari sekadar teknik fisik seperti mengatur napas dan menjaga keseimbangan, sungai ini mengajarkan filosofi hidup yang mendalam.
Di sinilah mereka belajar menghormati kekuatan alam sebuah prinsip krusial untuk bertahan hidup di tengah laut bahwa alam tidak untuk dilawan dengan kesombongan, melainkan untuk dibaca dan diajak berkompromi.
Sungai Leworeng menjadi saksi bisu sekaligus bukti nyata bagaimana bentang alam mampu membentuk kebudayaan dan keahlian khas sebuah masyarakat.
Di balik riaknya yang tenang, sungai ini terus melahirkan para pelaut tangguh yang siap mengarungi dunia, membawa membawa ketangkasan yang ditempa langsung dari tanah kelahiran mereka.(*)
Karya : Andi Agus Setiawan Ph Rauf.

