Soppeng-Di bawah rindangnya pohon pisang dan semilir angin pinggir jalan, Sutriyadi duduk santai pada jum'at siang (29/5).Mengenakan kaos putih polos, senyumnya mengembang lebar penuh percaya diri sembari memberikan acungan jempol.
Di tangan kanannya, ia memegang sebungkus rokok, menikmati jeda sejenak dari rutinitas harian yang melelahkan.
Bagi sebagian orang, ia mungkin terlihat seperti pemuda desa biasa.Namun, di balik penampilannya yang sederhana, Sutriyadi menyimpan sebuah mimpi besar yang menyala-nyala.Ia ingin menjadi seorang jurnalis.
Lahir dari Desa Baringeng dan tumbuh di lingkungan keluarga petani membuat Sutriyadi akrab dengan kerja keras sejak kecil.Ia melihat bagaimana peluh dan tanah menjadi bagian tak terpisahkan dari napas kehidupan orang tuanya.
Menjadi anak petani adalah sebuah kebanggaan baginya, namun ia tahu, jalan hidupnya tidak harus berhenti di pematang kebun. Sutriyadi memilih jalan yang berbeda.Ia jatuh cinta pada dunia literasi dan informasi.
Baginya, profesi wartawan bukan sekadar pekerjaan mencari berita, melainkan sebuah panggilan jiwa untuk menyuarakan kebenaran dan menjadi jembatan bagi mereka yang tak terdengar, termasuk menyuarakan nasib para petani seperti ayahnya.
"Saya ingin menjadi mata dan telinga masyarakat. Dari desa ini, saya ingin mengabarkan dunia," ungkapnya.
Tentu saja, melangkah dari kehidupan agraris menuju ruang redaksi yang dinamis dan serba cepat bukanlah perkara mudah. Keterbatasan akses, fasilitas, hingga pandangan miring dari lingkungan sekitar menjadi kerikil tajam yang kerap ia temui.
Di dunia yang semakin digital, tantangan untuk menjadi wartawan yang kompeten menuntutnya untuk terus belajar secara mandiri.
Namun, keterbatasan itu tidak membuat Sutriyadi ciut. Ia memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk membaca, mengamati situasi sekitar, dan melatih kepekaannya terhadap isu-isu sosial.
Baginya, modal utama seorang jurnalis adalah rasa ingin tahu yang tinggi dan keberanian, sesuatu yang sudah ia asah lewat tempaan hidup di desa.
Siang itu, di tepi jalan berlatar belakang tanaman hijau dan sebuah mobil putih yang sesekali melintas, Sutriyadi seolah sedang memetakan masa depannya.
Rokok di jemarinya perlahan mengabarkan ketenangan, sementara matanya menatap jauh ke depan, menembus batas desa tempat ia tinggal. Meski sudah berkeluarga, Sutriyadi mengaku bahwa mimpi tidak pernah memilih kasta.
Anak seorang petani pun berhak memiliki pena yang tajam untuk menguncang dunia lewat tulisan. Dengan semangat yang terus membara, dirinya isiap melangkah, mengubah setiap tantangan menjadi batu loncatan demi memakai kartu pers di dadanya suatu hari nanti.
