Soppeng-Pusat Pertokoan (Pusper) Watansoppeng yang dulunya menjadi denyut nadi perdagangan di jantung kota, kini kondisinya jauh dari kata ideal.
Kawasan yang pernah menjadi primadona warga untuk berbelanja tersebut kini terlihat lengang, dengan banyaknya kios kosong yang dibiarkan terbengkalai.
Ketua LSM SIDIK, Mahmud Cambang, menyoroti kondisi "mati suri" kawasan strategis ini. Ia mendesak Pemkab Soppeng untuk segera melakukan revitalisasi agar Pusper kembali hidup dan relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.
"Lokasinya sangat strategis. Perlu ada penataan ulang agar kawasan ini punya daya tarik baru dan tidak sekadar menjadi saksi bisu masa lalu," ujar Mahmud dilansir dari media Kabartujuhsatu.news , Kamis (4/6).
Mahmud mengusulkan pendekatan solutif melalui dua langkah utama. Pertama, pendataan dan penertiban kios-kios yang tidak dimanfaatkan.
Menurutnya, aset pemerintah ini harus diberikan kepada pelaku usaha yang benar-benar produktif, sehingga denyut perdagangan di Pusper dapat kembali bergairah.
Kedua, pembenahan aksesibilitas. Mahmud secara khusus menyarankan agar jalur masuk melalui area eks terminal di bagian selatan diaktifkan kembali.
"Akses yang terbuka dan nyaman adalah kunci. Jika jalur selatan dibuka, area lantai dua yang selama ini sepi akan lebih mudah dijangkau pengunjung," jelasnya.
Selain itu, ia menekankan perlunya perbaikan fasilitas pendukung, seperti lapangan bulutangkis, agar kawasan ini kembali menjadi ruang aktivitas sosial masyarakat.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah. Tanpa langkah nyata, Pusper dikhawatirkan hanya akan menjadi kawasan yang tertinggal.
Publik menanti, mampukah pemerintah mengembalikan kejayaan Pusper Watansoppeng sebagai pusat ekonomi yang membanggakan?.
