Soppeng-Ada sebuah pameo tua yang mengatakan bahwa mencari seribu musuh sangatlah mudah, namun menemukan satu sahabat sejati adalah perjalanan seumur hidup.
Di Kabupaten Soppeng, kisah klasik tentang kesetiaan itu nyata adanya, tergambar utuh dalam potret kebersamaan empat sekawan yang selalu kompak dalam rona kesederhanaan.
Mengenakan kaus hitam yang seragam "Domino Open Turnamen 72 Community", keempatnya berdiri bukan untuk pamer ego atau bersaing satu sama lain.
Kehadiran mereka di sana adalah penegasan bahwa di dunia yang terus berubah dengan cepat, ada hal-hal prinsipil yang tetap mereka jaga agar tidak berubah, rasa hormat, kebersamaan, dan saling menjaga.
Menurut Yusuf alias Cincong, salah satu sosok yang menjadi saksi sekaligus pelaku dalam perjalanan persahabatan ini, ikatan di antara mereka sudah lama meleburkan istilah "teman" dan menggantinya dengan "saudara".
Jarak, kesibukan, dan urusan duniawi masing-masing tidak pernah mampu mengikis rasa kepedulian yang telah tertanam "Sipakatau (saling memanusiakan) Sipakainge (saling mengingatkan), dan Sipakalebbi (saling menghargai)".
Cincong menegaskan bahwa persahabatan itu bukan soal seberapa sering kita bertegur sapa di media sosial, tapi soal bagaimana hati selalu berada di frekuensi yang sama saat bertemu.
"Kaus yang kami pakai ini boleh saja seragam karena sebuah momentum, tapi ikatan batin kami sudah seragam sejak lama, jauh sebelum hari ini," tutur Yusuf (Cincong) dengan nada reflektif , Senin (01/06).
Jika melihat dokumentasi foto, ada pesan tersirat yang kuat di sana. Berdiri berjejer di atas tanah berbatu dengan latar belakang perbukitan hijau yang membentang luas di bawah langit cerah Soppeng, mereka tampak seperti benteng yang saling menguatkan.
Guratan wajah mereka menyimpan cerita perjuangan hidup masing-masing, namun sirna oleh rasa nyaman saat berada di samping satu sama lain.
Di zaman modern yang sering kali menilai hubungan berdasarkan asas manfaat atau kepentingan materi, apa yang ditunjukkan oleh Yusuf Cincong dan para sahabatnya adalah sebuah teladan yang menyegarkan.
Mereka mengingatkan kita bahwa kekayaan sejati seorang pria bukan terletak pada apa yang ada di dalam dompetnya, melainkan pada siapa saja orang yang berdiri di sisinya saat badai kehidupan datang.
Waktu akan terus berjalan, musim akan berganti, dan rambut mungkin akan memutih.Namun, bagi empat sekawan dari Soppeng ini, komitmen untuk terus melangkah bersama adalah janji yang tak tertulis dan tertanam kuat di dalam dada.Sebuah persahabatan yang dalam arti sebenarnya takkan pernah lekang oleh waktu.(*)
