Soppeng-Kawasan Segitiga Cakelle, pusat kota Watansoppeng, bergejolak hebat pada Selasa (7/7/2026). Puluhan massa dari Aliansi Mahasiswa Soppeng Menggugat turun ke jalan, menyuarakan kemarahan atas kebijakan Pemerintah Daerah (Pemda) yang dinilai mencederai rasa keadilan masyarakat serta gagal menjawab tantangan krisis ekonomi.
Di bawah komando Jenderal Lapangan, Muhammad Arifin Syam, massa aksi menegaskan bahwa narasi kesuksesan yang selama ini dibangun Pemda hanyalah ilusi.
Dengan lantang, mereka menyatakan bahwa rakyat Soppeng tidak lagi bisa dibungkam oleh janji-janji manis.
Dalam aksi yang berlangsung panas tersebut, massa meruntuhkan narasi keberhasilan pemerintah dengan menyodorkan lima tuntutan krusial.
Pertama, Transparansi, yakni menuntut keterbukaan penuh atas proses seleksi beasiswa daerah demi menjamin akuntabilitas anggaran yang bebas dari kecurigaan publik.
Kedua, mendesak kepastian hukum atas aset asrama mahasiswa yang selama ini dibiarkan telantar.
Ketiga, menuntut investigasi total terhadap program MBG dan KDMP guna menghentikan praktik pemborosan anggaran yang tidak berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.
Keempat,mendesak institusi TNI-Polri agar kembali ke fungsi profesionalnya serta menjaga jarak dari pusaran politik praktis.
Terakhir, menuntut penghentian manipulasi data pertumbuhan ekonomi yang jauh panggang dari api, mengingat kondisi krisis saat ini justru kian menghimpit ekonomi rakyat kecil.
Gema orasi "Rakyat Muak! Janji Manis, Realita Krisis" terus membahana, membakar semangat massa yang memadati pusat kota. Para mahasiswa menegaskan bahwa aksi ini bukanlah seremonial belaka, melainkan sebuah ultimatum.
Aliansi Mahasiswa Soppeng Menggugat berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan daerah dan tidak akan menghentikan perlawanan hingga Pemda Soppeng melakukan pembenahan konkret terhadap tata kelola pemerintahan yang dianggap telah gagal total.(*)
