Iklan

Iklan

PEMKAB

SANTIAJI

Sentuhan Magis Cantika Sabbena: Merangkum Identitas Budaya Soppeng dalam Sehelai Kain

Jumat, 22 Mei 2026, Mei 22, 2026 WIB Last Updated 2026-05-21T16:10:48Z


Soppeng-Pengelolaan potensi daerah kini tidak lagi sekadar mengeksploitasi sumber daya alam. Langkah progresif ini dibuktikan oleh Perseroda Lamataesso Mattappa selaku pengelola Taman Wisata Alam (TWA) Lejja.
‎Perusahaan daerah tersebut sukses mengintegrasikan kekayaan budaya lokal menjadi identitas, memori kolektif, sekaligus aset ekonomi kreatif yang bernilai tinggi.
‎​Komitmen tersebut diwujudkan lewat peluncuran produk wastra (kain tradisional) bertajuk “Lejja Ri Wanua Soppeng”, sebuah karya seni yang merangkum keindahan alam dan nilai luhur budaya Soppeng.
‎​Di dalam wastra ini terkandung kombinasi harmonis dari berbagai elemen khas daerah yang sangat ikonik.
‎Seluruh komponen visual tersebut dibingkai erat dalam filosofi Sulapa Eppa (empat persegi), yang merepresentasikan simbol keseimbangan alam dan kehidupan dalam kosmologi budaya Bugis.
‎​Berikut adalah elemen-elemen penting yang tersemat di dalam corak kain:
​Pohon Beringin Ara: Melambangkan pengayoman dan akar sejarah yang kuat.
‎​Kawasan Geothermal: Merepresentasikan sumber air panas alami TWA Lejja yang menjadi urat nadi pariwisata daerah.
‎​Simbol Kalong (Kelelawar): Representasi ikonik fauna khas yang melekat pada identitas Kota Soppeng.
‎​Aksara Lontara: Bertuliskan “Lejja Ri Wanua Soppeng” sebagai penegasan identitas tertulis.
​Mahakarya ini lahir dari tangan dingin Hj. Nurlela Buhari, pemilik Cantika Sabbena Soppeng. Ia merupakan srikandi UMKM kreatif yang konsisten melestarikan wastra Bugis-Soppeng lewat industri tekstil dan mode.
‎Di bawah arahannya, Cantika Sabbena sukses bertransformasi dari sekadar usaha penjahitan biasa menjadi brand wastra mapan yang fokus pada pengembangan motif-motif orisinal Soppeng.
‎​Lebih dari sekadar bisnis komersial, Hj. Nurlela juga menjadikan usahanya sebagai motor penggerak pemberdayaan perempuan setempat, sekaligus pelopor mode berkelanjutan (sustainable fashion) melalui penciptaan produk etnik yang ramah lingkungan.
‎​
‎​Plt Direktur Perseroda Lamataesso Mattappa, Musdar Asman, menegaskan bahwa kehadiran batik ini merupakan strategi matang untuk memperluas esensi pengelolaan TWA Lejja. 
‎Menurutnya, Lejja tidak boleh hanya dipandang sebagai objek wisata alam semata, melainkan harus bertransformasi menjadi ruang hidup bagi kebudayaan lokal.
​"Selama ini Lejja identik dengan wisata alam dan pemandian air panasnya. Namun bagi kami, Lejja juga merawat nilai budaya, sejarah, dan identitas yang wajib kita angkat serta wariskan," ungkap Musdar.
‎​Ia menambahkan bahwa wastra Lejja Ri Wanua Soppeng berperan besar sebagai jembatan emosional antara kawasan wisata dengan akar budaya masyarakat setempat.
‎Melalui pendekatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal ini, diharapkan keberlanjutan kawasan pariwisata dapat terus terjaga secara jangka panjang.
‎​"Saat alam Lejja dituangkan ke dalam karya budaya, yang tercipta bukan sekadar corak kain, melainkan sebuah identitas. Langkah ini menjadi cara kita merawat memori kolektif, memupuk kebanggaan daerah, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat," pungkas Musdar.
Komentar

Tampilkan

  • Sentuhan Magis Cantika Sabbena: Merangkum Identitas Budaya Soppeng dalam Sehelai Kain
  • 0

Terkini

Topik Populer

Iklan