Jakarta-Dalam kehidupan yang kerap memanas, filosofi "mencari kawan" menjadi barang mewah yang sering terlupakan.
Namun, bagi Dr. Supriansa S.H.M.H , ia selalu memegang teguh prinsip "Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak," itu bukan sekadar jargon, melainkan kompas dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Supriansa, warung kopi seharusnya menjadi panggung untuk merajut silaturahmi, bukan arena untuk memproduksi permusuhan yang tidak berujung.
Bagi pria kelahiran Soppeng ini, satu lawan itu kebanyakan karena dia bisa menyita waktu, pikiran, dan energi yang seharusnya digunakan untuk hal-hal produktif.
Sementara seribu kawan terasa sedikit karena tantangan bangsa ini begitu besar.Sehingga bangsa kita butuh sebanyak-banyaknya tangan untuk gotong royong.
"Perbedaan pendapat adalah hal wajar, namun semua harus kembali menghargai keberadaan orang lain, sekalipun mereka berada di seberang garis ideologi,"urai, Dr.Supriansa saat ngopi bareng dengan Prof Aidir Amin Daud , mantan Irjen Kementerian Hukum dan Ham RI di destinasi Roti Romi Tebet Jakarta Selatan pada Minggu (10/5).
