Soppeng-Suara mesin perahu katinting menderu membelah tenangnya permukaan Danau Tempe di Kecamatan Marioriawa Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.Namun, bagi para nelayan setempat, suara itu tak lagi membawa optimisme.
Alih-alih membawa pulang tumpukan ikan Gabus, Mujair, ikan nila dan ikan khas seperti bale kandia, jaring mereka kini justru lebih sering dipenuhi oleh sosok hitam berduri "Ikan Sapu-Sapu".
Fenomena "invasi" ikan Sapu-Sapu dengan nama latin Loricariidae ini telah mencapai titik yang mengkhawatirkan.
Nelayan di pesisir Soppeng kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa ekosistem danau mulai kehilangan keseimbangannya.
Jaring Rusak, Hasil Nihil
Bagi para nelayan, Ikan Sapu-Sapu bukan sekadar tangkapan sampingan yang tak laku dijual, melainkan hama yang merusak alat pproduksi.
Ikan ini memiliki kulit yang sangat keras dan sirip berduri tajam yang kerap merobek jaring nilon milik nelayan.
Kerugian Material
Biaya perbaikan jaring yang rusak bisa mencapai ratusan ribu rupiah setiap minggunya.
Waktu Terbuang
Nelayan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melepaskan ratusan ekor Ikan Sapu-Sapu dari jaring mereka.
Ancaman Kepunahan Ikan Lokal
Meningkatnya populasi Ikan Sapu-Sapu berbanding lurus dengan merosotnya hasil tangkapan ikan bernilai ekonomi tinggi seperti ikan Mas, Mujair, ikan Gabus dan ikan konsumsi lainnya.
"Dulu sekali tebar jaring, kita bisa dapat 10 sampai 20 kilogram ikan konsumsi. Sekarang, isinya 80% ikan sapu-sapu. Ikan lokal kita makin susah dicari," kata Lasse, salah satu nelayan senior di pesisir Danau Tempe kepada pewarta pada Minggu (10/5).
Harapan pada Pemerintah
Kondisi ini memicu jeritan ekonomi di kalangan keluarga nelayan.Dengan hasil tangkapan yang kian punah, pendapatan harian mereka merosot tajam hingga 60-70%.
Masyarakat nelayan di Soppeng berharap adanya langkah konkret dari pemerintah daerah, seperti pemanfaatan limbah, edukasi pengolahan ikan Sapu-Sapu menjadi pakan ternak atau pupuk organik agar memiliki nilai jual.
"Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan profesi nelayan di Soppeng hanya akan tinggal sejarah, terkubur di bawah dominasi "hama hitam" yang kian merajalela,"ungkap para nelayan lainnya. (*)
