Soppeng-Di Kabupaten Soppeng, kursi kepemimpinan kini bukan lagi simbol arah yang tegak lurus, melainkan panggung perseteruan "dua matahari" yang menyilaukan sekaligus merusak.
Harmoni pemerintahan yang digadang-gadang hanyalah ilusi, realitanya, birokrasi daerah sedang tersandera oleh retakan visi antara Bupati, Suwardi Haseng dan Wakil Bupati Soppeng, Selle KS Dalle.
Ketidaksinkronan yang memuakkan ini meledak dalam polemik relokasi siswa Sekolah Rakyat (SR) 64 Soppeng. Ini bukan lagi sekadar bumbu dinamika politik, melainkan pengabaian nyata terhadap soliditas tata kelola pemerintahan.
Di satu sisi, Wakil Bupati Soppeng, Selle KS Dalle, dengan pongah memaksakan instruksi agar seluruh siswa "diangkut" ke gedung baru pada 11 Juli 2026, berdalih agenda strategis Kemensos RI.
"Seluruh peserta didik Sekolah Rakyat ditargetkan sudah pindah dari sekolah sementara ke gedung permanen yang baru ini," ujar Wakil Bupati saat meninjau langsung lokasi pembangunan gedung Sekolah Rakyat (SR) 64, Senin (15/6).
Namun, narasi tersebut "dihantam" balik oleh Bupati Soppeng, Suwardi Haseng, saat Open House di Kampus SRT 64 Soppeng, Jumat (19/6).Ia secara terbuka 'menampar' kebijakan wakilnya dengan larangan keras mobilisasi siswa.
"Siswa jangan dipindahkan sebelum pekerjaan tuntas seratus persen. Keamanan dan kenyamanan siswa adalah prioritas mutlak yang tidak bisa dikompromikan hanya demi mengejar target," tegas Bupati Soppeng.
Ketua LPKN Soppeng, Alfred, menilai bahwa perseteruan terbuka antara Bupati dan Wakil Bupati ini telah menciptakan preseden "pemerintahan cacat" yang membahayakan integritas daerah.
Baginya, tindakan tersebut bukan sekadar konflik politik, melainkan telah menciptakan labirin birokrasi yang menyesatkan dan membahayakan marwah pemerintahan daerah.
"Kontraktor kini dipaksa berjalan di atas bara api. Mereka ditekan oleh ambisi percepatan dari pihak Wabup, namun di sisi lain terancam sanksi tegas Bupati terkait keselamatan bangunan," ujar Alfred, pada Sabtu (20/6).
Alfred mengatakan bahwa situasi ini adalah bentuk nyata dari kegagalan kepemimpinan. "Akibatnya, ratusan siswa terombang-ambing di arena pertarungan ego politik. Jika kedua pemimpin ini tak segera bersinergi, masa depan generasi Soppeng yang akan menjadi taruhannya ," pungkasnya.
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan opini kritis yang disusun berdasarkan fakta perbedaan instruksi kebijakan antara Bupati dan Wakil Bupati terkait relokasi siswa SR 64 Soppeng sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan siswa.
